Showing posts with label polling. Show all posts
Showing posts with label polling. Show all posts

November 16, 2008

Polling #7 Coming Out: Should My Parents Know?

Perlukah orang tuamu tahu tentang orientasi seksualmu? (do you think your parents should know?)

Total votes: 12

Perlu, mungkin suatu hari nanti (yes, but maybe later) - 4 (33%)
Tidak perlu, aku punya alasan sendiri (no, I have my own reasons) - 8 (66%)


Bagi sebagian besar lesbian, ini adalah pertanyaan skak-mat. Gw termasuk salah satunya. Saat usia masih belasan mungkin ini bukan masalah sama sekali, waktu masih panjang, hidup masih senang-senang. Menginjak kepala 2, mulai agak kepikiran walaupun masih bisa bilang 'gimana nanti'. Akhir kepala 2, menjelang kepala 3, kekhawatiran semakin besar apalagi saat orang tua maupun anggota keluarga lain makin sering mempertanyakan soal pendamping pria. Ahhh... males yah ngeladeninnya? Tapi kalo mau jujur kok belum mungkin.

Kenapa susah? Karena mulut ini mendadak bisu tiap kali kata-kata sudah diujung lidah. Kenapa membisu? Karena takut. Takut apa? Bukan takut akan konsekuensi yang akan diterima, tapi takut akan mengecewakan dan menyakiti orang-orang yang paling kita sayangi.

Sering muncul pembelaan yang menurut gw egois: "Kalo mereka bener-bener sayang sama kita, mereka akan bisa ngerti dan menerima kita apa adanya." - memang ada benarnya, tapi orang tua kita pun hanya manusia yang tidak sempurna. Jika kita di posisi mereka, akankah kita lebih siap menghadapi kenyataannya? Belum tentu.

Above all, gw percaya semua orang tua intinya pingin liat anaknya sukses dan bahagia. Kalo kita bisa membuktikan dua hal itu, at least kita punya bargaining position yang cukup kuat buat memulai pembicaraan.

Polling #6 Coming Out: How Much You've Came out?

Sejauh apa kamu sudah coming out?
(how much you've came out?)

Total votes: 12

Hanya beberapa teman dekat (only few close friends) - 5 (41%)
Hampir semua teman sekolah/kampus/kantor (almost to everyone at school/college/office) - 2 (16%)
Ke semua orang kecuali keluarga (to everyone but family) - 0 (0%)
Belum sama sekali (no one knows yet) - 5 (41%)


Wow..hasilnya seimbang antara yang coming out ke beberapa teman dekat sama yang belum coming out sama sekali. Sementara yang sudah lebih terbuka ke teman-teman di lingkungannya justru lebih sedikit. Buat sebagian dari kita coming out ke khalayak yang lebih luas mungkin ngga terlalu sulit, dimulai dari beberapa teman dekat lalu perlahan mulai ke orang-orang lain di sekitar kita, walaupun tanpa perlu ada statement spesifik tapi mereka akhirnya tahu sendiri. Hal ini biasanya didukung oleh lingkungan pergaulan yang berpikiran lebih terbuka dan fleksibel terhadap hal-hal baru, sehingga mereka lebih cepat berkompromi dengan perbedaan yang muncul. Sebaliknya bagi yang tinggal di lingkungan yang lebih tertutup dan kaku, dimana hal-hal baru kurang diminati apalagi perbedaan yang cukup ekstrim, coming out bisa jadi lebih sulit. Sulit disini dalam artian akan lebih banyak argumentasi dan tekanan, tapi bukan berarti tidak mungkin untuk melaluinya.

Coming out atau stay in the closet seutuhnya adalah pilihan masing-masing pribadi. Kita tidak pernah berada dalam posisi mereka, begitu juga sebaliknya, jadi tidak ada seorang pun yang berhak menilai apalagi memutuskan kapan kita harus coming out atau tidak sama sekali. Setiap orang memiliki waktunya masing-masing dan tidak ada kaitannya dengan umur. Yang terpenting sesungguhnya adalah untuk merasa nyaman menerima dan menjadi diri kita apa adanya. For you are at your best when being yourself.

October 20, 2008

RESULT - Polling #5: Sexually Active

Kapan pertama kali kamu aktif secara seksual dengan perempuan? (when did you became sexually active with girl?)

Total votes: 12

Sebelum SMA (before highschool) - 3 (25%)
Semasa SMA (highschool) - 3 (25%)
Setelah SMAsemasa kuliah (after highschool/at college) - 6 (50%)

Kesimpulan:
Hmmm... Mungkin ada yang bisa cerita gimana rasanya berhubungan seksual, sama perempuan, pertama kali di umur yang masih sangat muda (buat yang sebelum SMA). Karena gw pribadi baru mengalami pas masa kuliah, itupun bingung awalnya, makanya gw ga kebayang gimana yang masih SMP misalkan. Oh my...

Gw yakin 99% dari komunitas lesbian yakin bahwa mereka 'aman'. Dalam artian ngga akan hamil, YA pasti. Dalam artian ngga mungkin kena penyakit lainnya? Belum tentu. Ini salah satu permasalahan yang perlu diangkat (lagi, kalo sudah pernah) dan dipublikasiin lebih luas. Di salah satu acara diskusi Q-Fest di Bandung awal tahun ini (2008) ada bagi-bagi booklet sederhana isinya tentang himbauan kesehatan seksual, tapi itu cuma buat gay cowo. Bahkan ngga ada satupun info tentang kesehatan seksual buat lesbian. Not even a glance on anyone's thought to brought it up?

Pernahkah kita tahu cara oral seks yang sehat? Atau kalo masukin jari ke vagina pasanganmu, apakah boleh asal sembarangan masuk atau ada cara-cara tertentu? Berapa banyak dari kalian yang tau kalo sebenernya ada gerakan khusus saat jari pasanganmu masuk ke vaginamu? Karena kalo asal masuk dan tergesek berulang kali bisa jadi luka di dalam nantinya.

Berapa banyak yang membanggakan diri berhasil bikin pasangannya orgasme berkali-kali? Banyak. Berapa banyak yang peduli buat ngebahas teknisnya yang benar dan sehat? Gw yakin cuma sedikit, bahkan mungkin sedikit sekali.
Kamu termasuk yang mana?

Lesbian juga harus safe sex!

Umur ternyata ngga ada hubungannya sama edukasi seksual, tapi kasarnya kalo yang uda lebih tua aja ngga tau apalagi yang jauh lebih muda? Dan dari segi kesiapan pertanggung jawaban psikologi juga pasti banyak perbedaan. Larangan melakukan hubungan seks sebelum menikah di komunitas hetero selain untuk menjaga kesehatan sebetulnya juga untuk menjaga ketidaksiapan mental saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Di komunitas lesbian mungkin bisa pakai patokan umur (karena ngga semuanya bakal menikah kan?) misalkan no sex before 18, intinya prinsip pembatasan diri ini perlu dianut juga. Pergaulan remaja yang memang semakin bebas sekarang bisa jadi bumerang.

Ada hal-hal yang memang belum bisa kita mengerti di usia kita sekarang ini, kenapa? Karena memang belum waktunya buat kita mengerti sepenuhnya. Jadi, bersabarlah. Semua akan indah pada waktunya.

RESULT - Polling #4: Binder

Butch harus pake binder / press dada? (butch must wear binder?)


Total votes: 14

Setuju (Agree) - 0 (0%)
Tidak setuju (Disagree) - 14 (100%)


Kesimpulan:
Jujur, gw seneng liat hasil polling yang ini, apapun alasan dan pertimbangan masing-masing pemilih atas jawabannya.

Ok, coba kita bahas sedikit soal binder ini. Binder atau yang mungkin lebih familiar di Indonesia disebut bebet/press dada, memang belum begitu populer disini, ada yang pakai, tapi ngga bisa dibilang banyak juga. Diluar negeri seperti Malaysia dan Singapura, binder sudah sangat awam digunakan oleh para label butch bahkan andro. Binder yang sesungguhnya terdiri dari berbagai bentuk dalam dua warna hitam dan putih. Yang pendek seperti sport bra atau yang panjang seperti kaos dalam biasa, hanya saja karena fungsinya memang untuk mengepres dada maka bahannya sedikit lebih tebal dan mengikat lebih kencang dibanding sport bra dan kaos dalam biasa. Ada yang langsung dipakai seperti kaos dalam biasa tapi ada juga yang menggunakan pembuka di bagian samping, jadi bagian depan (dada) dan terutama belakang (punggung) tampak polos seperti tidak menggunakan pakaian dalam.

Di Indonesia yang masih populer mungkin sebatas sport bra, atau kalau yang mau nekat di-bebet ya pakai kain bebet yang biasa dipakai untuk bebet luka sendi/tulang. Keduanya sesungguhnya tidak sehat untuk kondisi payudara terutama bentuk yang akan dihasilkan nantinya, tapi yang paling tidak sehat adalah di-bebet, lagipula sungguh tidak nyaman untuk bergerak dan bernafas.

Kemungkinan terbesar penggunaan binder/bebet ini adalah untuk menduplikasi kontur tubuh pria. Banyak penggunanya menyangkal tentang hal ini tapi jauh di dalam hati mereka sedikitnya pasti ada pikiran demikian. Untuk yang lebih ekstrim mungkin mereka sampai membenci payudaranya sehingga selalu berusaha menyembunyikan. Kasus kedua ini bisa jadi mengarah ke transgender yang perlu dikonsultasikan lebih lanjut kepada ahli yang bersangkutan.

Penyangkalan terhadap kondisi psikologi diri sendiri bukanlah jalan keluar yang baik. Bicarakan soal ini kepada orang yang tepat atau jika perlu konsultasikan dengan ahli. Jangan sampai kamu memaksakan sesuatu yang sesungguhnya tidak perlu dan membuatmu tidak nyaman.

RESULT - Polling #3: Butch/Andro getting naked & being touched

Saat berhubungan intim, butch/andro seharusnya juga mau membuka baju dan disentuh (Butch/andro should also be naked and allowed to be touched)

Total vote: 12

Setuju membuka baju saja (Agree being naked) - 1 (8%)
Setuju disentuh saja (Agree being touched) - 0 (0%)
Setuju kedua-duanya (Both agreed) - 11 (91%)
Tidak setuju sama sekali (Totally disagree) - 0 (0%)

Kesimpulan:
Kayanya ini yang banyak voting femme nih *hahaha* ngga ding, kita juga ngga tau siapa aja yang ikutan voting ini jadi sebaiknya kita ngga menilai dari salah satu sisi aja.

Entah darimana awalnya 'ritual' ngga buka baju dan ngga disentuh ini mulai tersebar di kalangan komunitas yang kemudian ditelan bulat-bulat oleh banyak anggotanya. Instead of searching how it started, I'd rather discussing on how it should be deal from this time to come. Secara pribadi, gw pikir kesalahan 'ritual' ini ngga bisa dilimpahkan ke penganut label butch/andro aja, tapi label (apapun) yang jadi partnernya pun perlu diluruskan pemikirannya. Permasalahan ini jelas sebuah sebab-akibat baik dari kesalahan pemahaman yang diturunkan dari generasi sebelumnya, ataupun hanya pemikiran dari beberapa orang yang kemudian diyakini benar dan tersebar, atau justru kesalahan pemahaman dari label berlawanan (pasangannya).

Gw yakin banyak faktor yang mempengaruhi munculnya perilaku ini (yang kemudian dihayati sebagai 'ritual' standard) seperti salah satunya dari sisi psikologi. Suatu hubungan seksual jelas melibatkan kepercayaan diri dan kenyamanan. Seperti yang kita tahu, banyak dari penganut label butch bahkan berusaha menutupi kondisi tubuhnya saat berpakaian (binder/press dada atau pakaian berlapis) dari sini jelas ada ketidakpercayaan diri atas bentuk tubuh, entah disadari ataupun tidak. Hal ini akan berlanjut pada perilaku mereka saat melakukan hubungan seksual dengan pasangannya. Pasangan pun memberikan pengaruh yang begitu besar dalam hal pemahaman perilaku ini, bisa jadi justru karena pemahaman yang keliru yang diyakini benar malah akhirnya tersebar demikian saat mereka menjalin hubungan dengan pasangan baru.

Jadi gw pikir kalopun suatu saat nanti akan ada usaha khusus untuk mengatasi masalah ini mungkin bisa dimulai dengan pemberian 'edukasi' mengenai permasalahan ini, dan harus diberikan kepada semua label dan bukan hanya pada label butch/andro (dominan) saja mentang-mentang merekalah praktisinya.

October 04, 2008

RESULT - Polling #2: Label

Seberapa penting label butch-femme-andro buatmu? (How important are butch-femme-andro labels to you?)

Total votes: 17

Sangat penting (it's my identity) - 4 (23%)
Tidak terlalu penting (whatever) - 11 (64%)
Seharusnya label dihapuskan (labels shouldn't exist) - 2 (11%)


Kesimpulan:
Sekali lagi, disadari bahwa jumlah voting yang sedikit ini memang tidak bisa digunakan sebagai landasan fakta yang kuat, namun masih mampu memberikan gambaran kasar mengenai permasalahan bersangkutan.

Permasalahan label di kalangan komunitas lesbian selalu menjadi topik pembicaraan yang tidak ada habisnya. Sebagian beranggapan bahwa label justru semakin mengkotak-kotakkan komunitas yang sudah berada dalam kotak minoritas dalam masyarakat heteroseksual. Sebagian yang lain meyakini bahwa label mengusung identitas yang lebih besar bagi masing-masing personanya. Sebagian lain lagi menganggap label hanya untuk mempermudah identifikasi. Dan masih banyak sebagian-sebagian lainnya dengan interpretasi mereka masing-masing mengenai 'label' dalam komunitas lesbian ini.

Apapun interpretasimu tentang 'label' jangan lupa untuk tetap saling menghargai.

RESULT - Polling #1: Dildo

Saat berhubungan intim, apakah kamu/kalian pernah menggunakan dildo? (Have you ever used dildo while making love?)


Total votes: 17

Tidak pernah (never) - 16 (94%)
Sesekali untuk variasi (sometimes) - 1 (5%)
Selalu (always) - 0 (0%)



Kesimpulan:
Hasil voting yang jumlahnya sedikit ini setidaknya memberikan gambaran kasar bahwa penggunaan alat bantu sex masih kurang digemari di Indonesia. Hal ini tentunya berkaitan dengan kurangnya informasi maupun akses untuk mendapatkan barang-barang tersebut. Apakah ini berarti baik atau justru sebaliknya, semuanya tergantung bagaimana Anda menyikapinya.

September 23, 2008

HerLounge Weekly Polling

From now on, HerLounge will held weekly pollings about random stuff and you can share your thoughts by participate on voting them. Polls area are on right sidebar, it won't be hard to find. You can only vote once, just to make sure we collect valid voices. HerLounge is cooperating with ButchClub to help spreads the words, you can too, tell your friends and thx for voting!