Showing posts with label coming out. Show all posts
Showing posts with label coming out. Show all posts

November 16, 2008

Apa sih 'Coming Out'?

Image from Corbis

'Coming out' atau biasa juga disebut 'Coming out of the closet' berarti mengakui dengan sadar dan sukarela mengenai orientasi seksual dan identitas gender kita. 'Coming out' adalah kebalikan dari 'In the closet' yang seringkali ditujukan pada seksualitas dan indentitas minoritas, dalam hal ini adalah lesbian.

Konsep 'Coming Out' pertama kali diperkenalkan pada tahun 1869 oleh Karl Heinrich Ulrichs, seorang aktivis hak-hak homoseksual dari Jerman, sebagai bentuk emansipasi. Menurutnya, menyembunyikan eksistensi merupakan hambatan besar menuju perubahan opini publik, beliau mengajak kaum homoseksual untuk menunjukkan eksistensinya (coming out). Sumber: Wikipedia.

Terdapat beberapa model yang menggambarkan tahapan 'Coming Out' (contoh: Dank, 1971; Cass, 1984; Coleman 1989; Troiden, 1989) yang paling populer adalah model yang dibuat oleh Vivienne Cass yang dikenal sebagai Cass Identity Model. Model ini menekankan pada 6 tahapan berbeda yang telah berhasil dilalui oleh mereka yang telah come out. Tahapan ini yaitu:
  1. Confusion
  2. Identity comparison
  3. Identity tolerance
  4. Identity acceptance
  5. Identity pride
  6. Identity synthesis.
Proses coming out dimulai dengan 'Coming out to oneself' yang berarti mengakui kepada diri sendiri bahwa dirinya, dalam hal ini, adalah lesbian. Ini merupakan tahapan paling awal dalam proses coming out; tahap ini biasanya melibatkan pencarian jati diri, keyakinan, dsb. Banyak lesbian pada tahap awal menyangkal orientasi seksual atau perilaku mereka karena adanya pertentangan terhadap keyakinan dan moral yang mereka percayai. Proses 'Coming out to oneself' menjadi tanda akhir dari keraguan terhadap diri sendiri yang kemudian berlanjut dengan proses 'Self acceptance' atau penerimaan diri.

Coming out adalah sebuah proses yang bertahap sekaligus sebuah perjalanan. Biasanya coming out dilakukan pertama kali terhadap sahabat karib atau anggota keluarga, dan kemudian baru kepada orang-orang lain. Beberapa orang come out pada orang-orang di lingkungan kerja mereka tapi tidak kepada keluarganya, atau sebaliknya. Tapi, seseorang tidak dengan mudahnya come out lalu selesai begitu saja; mereka masih harus terus menetapkan pilihan kepada siapa mereka akan terbuka soal orientasi seksualnya karena situasi dan orang-orang baru akan terus berdatangan dalam kehidupannya.


Sumber: Wikipedia - terjemahan pribadi



Recommended:

Polling #7 Coming Out: Should My Parents Know?

Perlukah orang tuamu tahu tentang orientasi seksualmu? (do you think your parents should know?)

Total votes: 12

Perlu, mungkin suatu hari nanti (yes, but maybe later) - 4 (33%)
Tidak perlu, aku punya alasan sendiri (no, I have my own reasons) - 8 (66%)


Bagi sebagian besar lesbian, ini adalah pertanyaan skak-mat. Gw termasuk salah satunya. Saat usia masih belasan mungkin ini bukan masalah sama sekali, waktu masih panjang, hidup masih senang-senang. Menginjak kepala 2, mulai agak kepikiran walaupun masih bisa bilang 'gimana nanti'. Akhir kepala 2, menjelang kepala 3, kekhawatiran semakin besar apalagi saat orang tua maupun anggota keluarga lain makin sering mempertanyakan soal pendamping pria. Ahhh... males yah ngeladeninnya? Tapi kalo mau jujur kok belum mungkin.

Kenapa susah? Karena mulut ini mendadak bisu tiap kali kata-kata sudah diujung lidah. Kenapa membisu? Karena takut. Takut apa? Bukan takut akan konsekuensi yang akan diterima, tapi takut akan mengecewakan dan menyakiti orang-orang yang paling kita sayangi.

Sering muncul pembelaan yang menurut gw egois: "Kalo mereka bener-bener sayang sama kita, mereka akan bisa ngerti dan menerima kita apa adanya." - memang ada benarnya, tapi orang tua kita pun hanya manusia yang tidak sempurna. Jika kita di posisi mereka, akankah kita lebih siap menghadapi kenyataannya? Belum tentu.

Above all, gw percaya semua orang tua intinya pingin liat anaknya sukses dan bahagia. Kalo kita bisa membuktikan dua hal itu, at least kita punya bargaining position yang cukup kuat buat memulai pembicaraan.

Polling #6 Coming Out: How Much You've Came out?

Sejauh apa kamu sudah coming out?
(how much you've came out?)

Total votes: 12

Hanya beberapa teman dekat (only few close friends) - 5 (41%)
Hampir semua teman sekolah/kampus/kantor (almost to everyone at school/college/office) - 2 (16%)
Ke semua orang kecuali keluarga (to everyone but family) - 0 (0%)
Belum sama sekali (no one knows yet) - 5 (41%)


Wow..hasilnya seimbang antara yang coming out ke beberapa teman dekat sama yang belum coming out sama sekali. Sementara yang sudah lebih terbuka ke teman-teman di lingkungannya justru lebih sedikit. Buat sebagian dari kita coming out ke khalayak yang lebih luas mungkin ngga terlalu sulit, dimulai dari beberapa teman dekat lalu perlahan mulai ke orang-orang lain di sekitar kita, walaupun tanpa perlu ada statement spesifik tapi mereka akhirnya tahu sendiri. Hal ini biasanya didukung oleh lingkungan pergaulan yang berpikiran lebih terbuka dan fleksibel terhadap hal-hal baru, sehingga mereka lebih cepat berkompromi dengan perbedaan yang muncul. Sebaliknya bagi yang tinggal di lingkungan yang lebih tertutup dan kaku, dimana hal-hal baru kurang diminati apalagi perbedaan yang cukup ekstrim, coming out bisa jadi lebih sulit. Sulit disini dalam artian akan lebih banyak argumentasi dan tekanan, tapi bukan berarti tidak mungkin untuk melaluinya.

Coming out atau stay in the closet seutuhnya adalah pilihan masing-masing pribadi. Kita tidak pernah berada dalam posisi mereka, begitu juga sebaliknya, jadi tidak ada seorang pun yang berhak menilai apalagi memutuskan kapan kita harus coming out atau tidak sama sekali. Setiap orang memiliki waktunya masing-masing dan tidak ada kaitannya dengan umur. Yang terpenting sesungguhnya adalah untuk merasa nyaman menerima dan menjadi diri kita apa adanya. For you are at your best when being yourself.